TEORI HUMANISTIK
(Group 3 - Leader : Restawanu Vika)
Teori
Belajar Humanistik
Psikologi
humanistik diperoleh dari filsafat humanisme,
yang berkembang selama Renaissance di Eropa dan Reformasi Protestan yang
didasarkan pada keyakinan bahwa individu-individu yang mengontrol nasib mereka
sendiri melalui aplikasi kecerdasan dan pembelajaran mereka. Orang-orang
membentuk diri mereka sendiri.
Istilah “Humanisme Sekuler” merujuk pada keyakinan yang berkaitan secara erat dimana kondisi-kondisi keberadaan manusia berhubungan dengan hakikat manusia dan tindakan manusia bukannya pada takdir atau intervensi tuhan. Aliran humanistik muncul pada tahun 1940-an sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap psikionalisa dan behavioristik. Aliran ini boleh dikatakan masih muda yang sangat menekankan pada prestasi, motivasi, perasaan, tindakan, dan kebutuhan akan umat manusia. Tujuan pendidikan menurut orientasi ini, adalah aktualisasi diri individual, mampu mengembangkan potensinya secara utuh. Berfungsi bagi kehidupan dirinya dan lingkungannya.
Istilah “Humanisme Sekuler” merujuk pada keyakinan yang berkaitan secara erat dimana kondisi-kondisi keberadaan manusia berhubungan dengan hakikat manusia dan tindakan manusia bukannya pada takdir atau intervensi tuhan. Aliran humanistik muncul pada tahun 1940-an sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap psikionalisa dan behavioristik. Aliran ini boleh dikatakan masih muda yang sangat menekankan pada prestasi, motivasi, perasaan, tindakan, dan kebutuhan akan umat manusia. Tujuan pendidikan menurut orientasi ini, adalah aktualisasi diri individual, mampu mengembangkan potensinya secara utuh. Berfungsi bagi kehidupan dirinya dan lingkungannya.
Pengertian humanisme
Dalam
teori ini lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Teori ini
menekankan pada proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Teori apapun
bisa dilakukan asal tujuan “Memanusiakan Manusia” dapat tercapai. Pendekatan
ini lebih melihat bagaimana dirinya melakukan hal-hal yang positif. Kemampun
positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang
beraliran humanisme biasanya memfokuskan pengajarannya pada pembangunan
kemampuan yang positif.
Belajar
menurut pandangan humanisme merupakan fungsi dari keseluruhan pribadi manusia
yang melibatkan faktor intelektual dan emosional, motivasi belajar harus datang
dari dalam diri anak itu sendiri. Proses belajar mengajar menekankan pentingnya
hubungan interpersonal, menerima siswa sebagai seorang pribadi yang memiliki
kemampuan, dan peran guru sebagai
partisipan dalam proses belajar bersama. Dalam teori humanistik dianggap
berhasil jika si pelajar memahami lingkungan dan dirinya sendiri.
Menurut
kami, teori humanistik lebih memfokuskan pada proses belajar tersebut agar
tujuan dari teori ini yaitu, memanusiakan manusia bagi si peserta didik itu
tercapai.
Tokoh teori
Humanistik
1. Abraham Maslow
Maslow
adalah tokoh yang paling menonjol dalam psikologi humanistik. Maslow
berpendapat, bahwa manusia memiliki hirarki kebutuhan yang dimulai dari
kebutuhan jasmaniah sampai dengan kebutuhan tertinggi yakni kebutuhan estetis.
Kebutuhan jasamaniah menuntut sekali untuk dipuaskan. Jika kebutuhan ini telah
terpuaskan maka akan muncul kebutuhan lain yakni, kebutuhan keamanan.
Berikutnya adalah kebutuhan harga diri, kebutuhan untuk dihargai, dihormati,
dan dipercaya oleh orang lain.
Apabila
seseorang telah dapat memenuhi semua kebutuhan yang tingkatannya lebih rendah
tadi, maka motivasi lalu diarahkan kepada kebutuhan terpenuhinya aktualisasi
diri yaitu, kebutuhan untuk mengembangkan potensi atau kecenderungan tertentu.
Cara aktualisasi diri ini tampil, tidaklah sama pada semua orang.
Maslow
membedakan antara empat kebutuhan yang pertama dan tiga kebutuhan kemudian. Ke
empat kebutuhan yang pertama disebut deficiency
need (kebutuhan yang timbul karena kekurangan), dan pemenuhan kebutuhan ini
bergantung pada orang lain. Sedangkan kebutuhan yang lain dinamakan growth need (kebutuhan untuk tumbuh)
dan pemenuhannya lebih bergantung pada manusia itu sendiri.
Implikasi
dari teori ini sangat penting di dunia pendidikan. Dalam proses belajar
mengajar teori ini harus diperhatikan oleh guru. Seperti contoh, mengapa anak
tidak memiliki motivasi dalam belajar, atau mengapa anak-anak tidak bisa tenang
di dalam kelas. Guru tidak bisa menyalahkan anak atas kejadian itu, bisa jadi
sebelum memahami, kebutuhan anak tersebut untuk memahami belum terpenuhi dengan
berbagai faktor-faktor tertentu.
2. Carl Rogers
Lebih
khusus di bidang pendidikan, Rogers mengutarakan tentang pendapat prinsip belajar
yang humanistik, meliputi hasrat untuk belajar, belajar yang berarti, belajar
tanpa ancaman, belajar atas inisiatif sendiri, dan belajar untuk perubahan
(Rukmini,dkk. 1993).
Adapun
konsep masing-masing prinsip sebagai berikut:
1.
Hasrat untuk belajar
Menurut
Rogers, manusia mempunyai hasrat alami untuk belajar. Hal ini terbukti dari rasa ingin tahu anak ketika diberi
kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.
2.
Belajar yang berarti
Belajar
akan memiliki makna apabila yang dipelajari memiliki relevan dengan kebutuhan
dengan maksud anak.
3.
Belajar tanpa ancaman
Proses
belajar akan lancar ketika murid menguji kemampuannya, mencoba pengalaman baru
serta membuat kesalahan tanpa mendapat kecaman yang menyinggung perasaannya
atau membuatnya menjadi minder.
4.
Belajar atas insiatif sendiri
Mampu
memilih arah belajarnya sendiri sangatlah memberikan motivasi dan mengulurkan
kesempatan bagi murid bagaimana caranya belajar (to learn how to learn).
Belajar atas insiatif sendiri juga mengajar murid menjadi bebas dalam hal
positif, tidak bergantung dan percaya pada kemampuan dirinya sendiri.
5.
Belajar untuk perubahan
Menurut
Rogers, belajar yang paling bermanfaat ialah belajar tentang proses belajar.
Saat ini perubahan hidup merupakan fakta yang sentral. Ilmu pengetahuan dan
teknologi semakin berkembang. Apa yang dipelajari di masa lalu tidaklah cukup
untuk membekali diri dalam kehidupan di masa kini maupun di masa mendatang.
Dengan demikian yang dibutuhkan saat ini adalah orang yang mampu belajar di
lingkungan yang sedang berubah dan akan terus berubah.
Para
guru harus menjadi fasilitator (Carl
Rogers:1982) dan kelas harus menjadi tempat yang “di dalamnya keingintahuan dan
hasrat untuk belajar dapat dipelihara dan ditingkatkan”. Melalui pemahaman para
siswa, para guru humanistik mendorong para siswanya untuk belajar dan tumbuh
3. Arthur Combs
Arthur
Combs bersama Donald Syngg menyatakan bahwa belajar terjadi apabila mempunyai
arti bagi individu tersebut. Guru tidak boleh memaksakan materi yang tidak
disukai oleh siswa, sehingga belajar dilakukan tanpa adanya paksaan. Menurut
Combs perilaku yang keliru karena tidak adanya kesediaan seseorang untuk
melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
4. Aldous Huxley
Huxley
menekankan adanya pendidikan non verbal yang juga harus di ajarkan kepada
siswa. Pendidikan non verbal lebih kepada hal-hal yang bersifat di luar materi
pembelajaran, dengan tujuan menumbuhkan kesadaran seseorang. Proses pendidikan
non verbal dimulai sejak usia dini sampai tingkat tinggi.
5. David Milss dan
Stanley Scher
David
Milss dan Stanley Scher mengajukan konsep pendidikan terpadu, yakni proses pendidikan
yang mengikutsertakan afeksi atau perasaan murid dalam belajar. Tujuan umum
dari pendekatan ini adalah mengembangkan kesadaran-kesadaran murid terhadap
dirinya sendiri dan duni sekitar, serta meningkatkan kemampuan untuk
menggunakan kesadarannya dalam menghadapi lingkungan dengan berbagai cara.
Fungsi
guru dalam pendekatan terpadu adalah lebih membebaskan murid dari
ketergantungan guru, dengan tujuan akhir mengembangkan responsibilitas murid
untuk belajar sendiri. Guru hanya membantu memberikan pilihan yang masuk akal
bagi pikiran mereka.
Ciri-ciri teori
belajar humanisme
Teori
ini lebih menekankan kepada potensi manusia untuk mencari dan menemukan
kemampuan yang ada di dalam diri mereka dan mengembangkan kemampuan mereka
tersebut. Kemampuan diri untuk mengembangkan hal yang positif menjadi tolak
ukur keberhasilan akademik.
Aliran
ini memandang bahwa belajar merupakan fungsi dari keseluruhan pribadi manusia,
yang melibatkan faktor intelektual dan emosional, motivasi belajar harus datang
dari dalam diri anak itu sendiri. Proses belajar mengajar lebih menekankan
pentingnya hubungan interpersonal, menerima siswa sebagai seorang pribadi yang
memiliki kemampuan, dan peran guru sebagai partisipan dalam proses belajar
bersama.
Dengan
kata lain, pendekatan humanisme lebih menekankan pentingnya emosi atau
perasaan, komunikasi terbuka, dan nilai-nilai yang dimiliki setiap siswa.
Sehingga cara ini dilakukan agar menghasilkan suatu proses pembelajaran yang
diharapkan sesuai dengan tujuan dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa.
Aplikasi dan
Implikasi Humanisme
Guru Sebagai
Fasilitator
Psikologi
humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator.
1. Fasilitator
sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok,
atau pengalaman kelas
2. Fasilitator
membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam
kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3.Dia mempercayai
adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang
bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam
belajar yang bermakna tadi.
4. Dia
mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas
dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5. Dia
menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat
dimanfaatkan oleh kelompok.
6. Di
dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik
isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk
menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
7. Bilamana
cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat
berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota
kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti
siswa yang lain.
8. Dia
mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga
pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai
suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa
Rabu, 02 Mei 2012
//
Label:
Psychology
//
0
komentar
//
0 komentar to "Teori Humanistik ( Psychology 2)"
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
List of Study
- Introduction to Linguistics (2)
- Philosofy of Education (1)
- Pronunciation (1)
- Psychology (2)
- Writing (4)
Popular Posts
-
FILSAFAT PENDIDIKAN Dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti alam pikiran atau alam berpikir. Berfilsafat artinya berpikir,...
-
TEORI BEHAVIORISTIK (Group 1 - Leader : Ade Saputra) 2. 1 . Pengertian Teori Behavioristik Adalah teori belajar yang lebih men...
-
TEORI HUMANISTIK (Group 3 - Leader : Restawanu Vika) Teori Belajar Humanistik Psikologi humanistik diperoleh dari filsafat humani...
-
Phonology : Speech Sound · the study of word-to-word relations in sentences; that is, how sound patterns are affected by the...
-
OUTLINES OF EFFECTIVE PRESENTATIONS By Ms. Euis Yanah M., M.Pd 1. Opening Greeting, name, position Good afternoon e...
-
What is an Explanation ?? An Explanation tells how or why something accurs. Explanations can be spoken or written and their purpose is to...
-
Language and The Brain Birds do it. Bees do it. So do dolphins, monkeys, apes and humans. You know what I am talking about....communic...
-
What is a narrative ? Narrative is a text that tells a story and, in doing so, entertains the audience. The purpose af a narrative, othe...
-
UMT TASK Nice Ant There was kiki, The lazy cricket, who played viollin all day long. While, the ants prepared food for the rains. W...
File Archive
Blogger news
Open Cbox
Blogger templates
Diberdayakan oleh Blogger.



Posting Komentar